Satu Jam Tertunda, Sejumlah Persoalan Terbuka: Kendala Teknis dan Koordinasi di Kegiatan Pelatihan Penulisan Makalah STIT Al-Muslihuun

Doc. Crew LPM Laun

KAMPUS — Auditorium STIT Al-Muslihuun Tlogo Blitar menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Penulisan Makalah pada Kamis (15/10/2026). Kegiatan yang ditujukan bagi seluruh mahasiswa semester satu ini diikuti oleh 31 peserta dan diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Laun, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI), serta Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Meski penyampaian materi berlangsung lancar, pelaksanaan kegiatan sempat mengalami kendala teknis. Acara yang terjadwal mulai pukul 12.30 WIB kini baru terlaksana pada pukul 13.30 WIB. Keterlambatan tersebut terjadi karena sejumlah perlengkapan penunjang, seperti proyektor dan mikrofon, belum tersedia di lokasi saat kegiatan hendak dimulai.

Kondisi ini diduga berkaitan dengan miskomunikasi antara Ketua BEM dan jajaran panitia kolaborasi. Selain itu, beberapa panitia inti, termasuk Ketua Pelaksana, dilaporkan terlambat hadir di lokasi. Situasi tersebut berdampak pada perubahan susunan acara yang semula dirancang secara formal menjadi lebih nonformal.

Wakil Ketua BEM, Ubaid Dimas, bahkan harus mengambil alih dua peran sekaligus, yakni sebagai pembawa acara (master of ceremony/MC) dan moderator, agar kegiatan tetap dapat berlangsung.

“Saking panitia karo ketua pelaksana durung teko, MC moderator tak lakoni dewe (Karena panitia dan ketua pelaksana belum datang, MC dan moderator saya lakukan sendiri),” ujar Ubaid saat dikonfirmasi.

Persoalan koordinasi juga disoroti oleh Pimpinan LPM Laun, Syahdan Haqiqi. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah berupaya menanyakan kepastian persiapan sebelum acara dimulai. Namun, pihak BEM menyampaikan bahwa seluruh kebutuhan kegiatan telah ditangani oleh penanggung jawab teknis. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah kebutuhan belum siap hingga mendekati waktu pelaksanaan.

“Seengga'e sing dijak kolaborasi ngerti, ora diurus dewe (Setidaknya pihak yang diajak berkolaborasi diberi tahu perkembangan persiapannya, tidak diurus sendiri),” tegas Syahdan.

Kendala dalam pelaksanaan kegiatan ini menjadi catatan evaluasi bagi organisasi mahasiswa yang terlibat. Koordinasi yang terbuka, penyampaian informasi yang jelas kepada seluruh pihak yang berkolaborasi, serta pengarahan teknis sebelum kegiatan dimulai perlu menjadi perhatian bersama. Langkah tersebut penting untuk meminimalkan risiko kendala serupa dalam penyelenggaraan agenda berikutnya.

Penulis: Chaa🌱

Editor: fall

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement