Puisi Berantai Menggetarkan Panggung Mapaba: Kritik Tajam PMII untuk Demokrasi yang Mati

Doc. Puisi berantai Sahabat Zaka dan Najib 

Blitar, 4 Oktober 2025 — Suasana panggung Euforia acara Mapaba PMII UNU Blitar Rayon El Freire pada Sabtu malam berubah menjadi momen penuh makna dan refleksi ketika dua tokoh muda, Sahabat Zaka dari PMII Komisariat Bongkar yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) STIT Al-Muslihuun, serta Sahabat Najib Zamzami, Ketua Rayon Soeprijadi UNU Blitar, menampilkan puisi berantai yang menggugah kesadaran tentang arti kemerdekaan sejati.

Mereka membawakan puisi karya Della Karmila berjudul “Dibalik Kata Merdeka”, dengan pesan kuat bahwa kemerdekaan Indonesia saat ini hanya sebatas kata, bukan kenyataan. Dalam salah satu bagian penampilannya, Najib Zamzami menyampaikan pernyataan tegas, “Kemerdekaan harus tetap dijaga, jangan biarkan kebebasan kalian dibelenggu oleh orang-orang munafik itu.”

dibawah ini sedikit rekaman penampilan mereka:

Tidak berhenti di situ, mereka juga membacakan puisi bertema perjuangan aktivis Shelfin Bima dan Sam Umar yang disebut sebagai korban pengekangan suara rakyat. Melalui lantunan puisi itu, keduanya menyoroti realita pahit demokrasi di Indonesia yang kian terbungkam oleh kekuasaan.

Sebagai penutup penampilan, Zaka dengan lantang menyerukan, “Dan mari kita kirimkan Al-Fatihah teruntuk demokrasi yang mati di Indonesia ini.” Kalimat itu sontak membuat suasana panggung hening, disambut tepuk tangan panjang dan tatapan kagum dari para penonton yang hadir.

Penampilan mereka menjadi sorotan utama pada malam itu, bukan hanya karena keindahan puisi yang dibawakan, tetapi juga karena keberanian dalam menyuarakan kritik terhadap kondisi bangsa saat ini.

Acara Mapaba PMII UNU Rayon El Freire tersebut merupakan agenda kaderisasi awal bagi calon anggota baru PMII, yang dikemas dengan semangat intelektual, spiritual, dan seni pergerakan mahasiswa.



Penulis     : Sahabat Ub.

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement