![]() |
| Osjur PBA Sabtu, 15 Nov 2025 |
Oleh :Ubaid Dimas Romandhan
Di malam yang indah nan menawan,
ketika ombak bersenandung lembut pada angin,
kulihat sebutir lentera kecil
menyala di tengah selimut malam yang pekat.
Teman sejawatku melantun irama,
merajut nada di atas bibir laut,
dan aku mengakui itu indah,
meski pikiranku masih terbenam
dalam jurang keheningan yang tak berbatas.
Kebahagiaan, barangkali hanya fantasi,
fatamorgana yang kubangun sendiri
di padang pikiran yang kering akan tenang.
Perjalananku bukanlah amor fati,
bukan penerimaan penuh atas takdir,
melainkan kebingungan tanpa arah.
Haruskah kutulis pesona Bumantara
yang menari di atas langit kelam?
Atau Bagaskara yang anggun
membalut pagi dengan hangat mentarinya?
Aku rindu entah pada apa, entah pada siapa.
Pada fantasi keluarga Cemara,
atau pada dunia yang tak pernah nyata.
Di sisiku mawar-mawar merah bermekaran,
namun hatiku tetap terpaut
pada mawar putih yang melintas di angan,
indah, jauh, dan tak tersentuh.
Namun malam terus berjalan,
membawaku pada kesadaran bahwa setiap indah
tak selalu harus dimiliki.
Ada yang cukup dinikmati dari kejauhan
seperti cahaya bintang yang tak bisa kusentuh,
namun tetap menuntunku pulang.
Dan mungkin, lentera kecil itu
bukan sekadar cahaya,
melainkan penunjuk arah
agar aku tak tenggelam
dalam labirin batinku sendiri.
Pada akhirnya, aku belajar satu hal,
bahwa kebingungan pun adalah bagian dari perjalanan,
bahwa rindu pun memiliki jalannya sendiri,
dan bahwa yang jauh tak selalu harus digapai,
cukup dipahami sebagai alasan
kenapa hati terus berjalan.
Maka biarlah mawar putih tetap di angan,
biarlah malam tetap menyimpan rahasia.
Aku melangkah pelan, menerima segala rasa,
dan menjadikan keheningan ini
sebagai rumah sementara bagi atma.

0 Komentar